Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang retorika hijab modern. Ini Penelitian ingin membuktikan bahwa supplier busana hijab itu dinamis dan tidak statis dengan melihat gaya-gaya baru jilbab di Amman, Yordania. Ia ingin membantah anggapan bahwa hijab adalah salah satu dari sekian banyak contoh praktek hijab yang ketinggalan jaman. Penelitian ini memiliki tiga hipotesis hijab adalah dinamis dan tidak statis, dan telah berubah gaya karena modernisasi dan pembaratan. Gaya jilbab baru tidak sepenuhnya religius.  Terakhirhipotesis bahwa retorika baru jilbab dan gaya jilbab baru memberikan Muslim agen wanita muhajabe bukannya mengambil agensi mereka.

Studi mengumpulkan data dari wawancara,  survei, dan dua kelompok fokus pria dan wanita, yang terdiri dari peserta di setiap kelompok. Total data yang dikumpulkan dari  responden. Penelitian ini juga mengandung a tinjauan pustaka dari beragam supplier busana kelompok karya tentang topik yang berkaitan dengan penelitian. Studi ini memilikimenemukan bahwa memang gaya jilbab baru ditemukan di Yordania dalam menggabungkan Barat modern gaya dan busana dengan persyaratan agama Islam membuktikan sifat dinamishijab.

Supplier Busana Muslim Dan Rok

Juga fakta bahwa sebagian besar peserta dalam penelitian ini memakai pakaian mereka sendiri menganggap salah atau setengah hijab membuktikan bahwa alasan memakai gaya baru tersebut sudah melampaui batas agama. Selain itu, meski secara religius supplier busana gaya jilbab baru memberikan hak pilihan kepada wanita,
Menurut budaya dan tradisi, gaya jilbab baru tidak memberikan hak pilihan supplier hijab tangan pertama bagi perempuan. Terakhir, penting untuk dicatat bahwa karena ukuran sampel yang kecil dan keterbatasan lainnya, hal ini isi dan temuan penelitian ini tidak boleh digeneralisasikan.

Sebelum belajar di luar negeri di Turki musim panas lalu, bisa dibilang saya cukup cuekj ilbab. Saya tahu bahwa itu adalah sesuatu yang religius tetapi juga itu adalah pilihan bagi Muslim wanita. Ketika kami tiba di Turki, saya terkejut melihat bahwa kebanyakan sabilamall wanita tidak memakai hijab. Saya juga terkejut mengetahui bahwa ada undang-undang yang melarang wanita mengenakan jilbab di kantor publik dan sekolah. Maka dari itu tentunya penting untuk membahas hijab di Turki. Salah satu hal baru dan menarik yang saya pelajari adalah bahwa hijab telah dimodernisasi. Tidakhanya dimodernisasi tetapi “bergaya”.

Supplier Busana

Di mana-mana di Turki ada papan reklame wanita mengenakan pakaian modis yang chic dengan hijab. Jilbab sepertinya bukan halangan terlihat modis tetapi sebaliknya adalah penampilan yang modis. Kami juga pergi ke distrik hijab di Turki dimana ada supplier busana brand bernama toko hijab. Wanita menghabiskan banyak ejekan uang untuk memakai nama merek ketika mereka bisa membelanjakan ¼ dan membeli syal untuk menutupi rambut mereka. Semua ini dipicu oleh minat terhadap hijab sebagai lebih dari sekedar pakaian religius.

Saya pikir minat ini hanya akan menjadi minat sampai saya datang ke Yordania. Di Akhir pekan pertama yang saya habiskan dengan keluarga angkat saya, adik perempuan saya yang berusia lima tahun terus mengenakan jilbab saya. Kapanpun dia memakai hijab dia juga akan memakai lipstik dan apapun make up dia
bisa baik-baik saja pada saya. Juga ketika saya memilih syal hitam supplier busana sederhana saya untuk dipakai, dia akan mengatakan itu tidak cantik dan akan memilih syal yang lebih cantik dan lebih berwarna. Meskipun demikian, industri fashion Islami telah berhasil memulai kampanye pemasaran yang memanfaatkan inti dari ajaran Islam: Syariah, atau hukum agama Islam. Sebuah perusahaan pakaian Malaysia, Kivitz, misalnya, menggunakan frase “Syar’i and Stylish”. Dalam bahasa Melayu, Syar’i sama dengan Syariah.